Beranda MotoGP Marc Marquez Enggan Gunakan Pengaruh Media untuk Serang Rival

Marc Marquez Enggan Gunakan Pengaruh Media untuk Serang Rival

Marc Marquez tidak ingin menggunakan pengaruh media untuk menyerang rival. Sikapnya terlihat ketika ia meminta penggemar tidak menyalahkan Marco Bezzecchi.

Pembalap Ducati mengenakan perlengkapan balap merah memegang payung di area sirkuit dan mengacungkan jempol
Marc Marquez. (Foto: Bulatan Times)

Bulatan Sport – Marc Marquez menegaskan bahwa pengaruh besar yang dimilikinya di dunia MotoGP tidak boleh digunakan untuk menyerang pembalap lain. Pembalap Ducati Lenovo Team itu mengakui media dapat membantunya menghadapi tekanan, tetapi ia membedakannya dengan upaya menyudutkan rival.

Sikap tersebut kembali menjadi perhatian setelah Marquez membicarakan hubungannya dengan media dalam wawancara yang dipublikasikan pada 22 Oktober 2026. Ia juga mencontohkan tindakannya ketika Marco Bezzecchi mendapat kritik keras setelah kecelakaan mereka di MotoGP Indonesia tahun lalu.

Mengutip wawancara Marquez yang dimuat Crash.net, pembalap asal Spanyol itu menegaskan tidak akan menggunakan kekuatan media untuk menyerang orang lain.

Marquez Bedakan Kepentingan Pribadi dan Serangan kepada Rival

Marquez memahami bahwa seorang pembalap sukses memiliki pengaruh terhadap pemberitaan dan pendapat penggemar. Menurutnya, pengaruh tersebut diperoleh karena pencapaian sepanjang karier, tetapi bukan berarti semua tindakan sang pembalap selalu benar.

Ia tidak menyangkal pernah memanfaatkan perhatian media untuk kepentingannya sendiri. Namun, tujuan yang dimaksud lebih berkaitan dengan upaya menjaga ketenangan ketika menghadapi berbagai situasi dalam kariernya.

Bagi Marquez, ada batas yang tidak seharusnya dilewati. Menggunakan media untuk menjelaskan sikap atau melindungi kepentingan sendiri berbeda dengan memanfaatkannya untuk memperburuk citra seorang pesaing.

Pandangan itu penting dalam MotoGP karena persaingan tidak hanya terjadi di lintasan. Komentar seorang pembalap terkenal bisa memicu perdebatan panjang, terutama ketika melibatkan kecelakaan, keputusan pengawas balapan, atau perebutan gelar dunia.

Insiden Mandalika Menjadi Contoh Sikapnya

Marquez kemudian menyinggung kecelakaan dengan Marco Bezzecchi pada GP Indonesia 2025 di Sirkuit Mandalika.

Saat itu, Bezzecchi kehilangan kendali ketika berusaha mengejar posisi pada lap pertama. Motornya mengenai Marquez dan membuat keduanya terjatuh.

Kecelakaan tersebut menyebabkan Marquez mengalami cedera di bagian bahu kanan. Ia harus menjalani pemeriksaan medis lebih lanjut setelah balapan.

Bezzecchi kemudian meminta maaf atas kejadian tersebut. Namun, sebagian penggemar Marquez tetap melontarkan komentar negatif kepada pembalap Italia itu melalui media sosial.

Alih-alih memperbesar ketegangan, Marquez justru meminta pendukungnya tidak menyerang Bezzecchi. Ia mengingatkan bahwa kecelakaan merupakan bagian dari risiko balapan dan tidak semua insiden terjadi karena kesengajaan.

Melansir Motorsport.com, Marquez menyampaikan imbauan tersebut melalui media sosial setelah kecelakaan di Mandalika. Bezzecchi juga mengakui kesalahannya dan menyatakan penyesalan kepada Marquez serta tim Ducati.

Baca Juga: Marco Bezzecchi Sayangkan MotoGP Australia Batal, Kagum pada Penonton

Sikap Serupa Terlihat saat Bezzecchi Cedera

Hubungan Marquez dan Bezzecchi kembali menjadi sorotan pada Juli 2026.

Ketika Bezzecchi mengalami cedera tulang selangka setelah kecelakaan di Sachsenring, sejumlah komentar di media sosial mengaitkan kejadian itu dengan insiden Mandalika pada musim sebelumnya.

Marquez menolak pandangan yang menganggap cedera seorang pembalap sebagai balasan atas kecelakaan yang pernah melibatkan pembalap lain.

Ia justru menyampaikan harapan agar Bezzecchi segera pulih. Marquez juga kembali mengingatkan penggemar bahwa kecelakaan dapat menimpa siapa pun yang berlomba di MotoGP.

Sikap tersebut memperlihatkan perbedaan antara persaingan di lintasan dan hubungan antarpembalap di luar balapan.

Marquez tetap berusaha mengalahkan Bezzecchi ketika keduanya bertemu di sirkuit. Namun, ia tidak menganggap persaingan itu sebagai alasan untuk membiarkan serangan pribadi terhadap rivalnya.

Pengalaman Perselisihan dengan Valentino Rossi

Pembicaraan mengenai pengaruh media juga berkaitan dengan pengalaman Marquez menghadapi Valentino Rossi pada MotoGP 2015.

Menjelang GP Malaysia saat itu, Rossi menuduh Marquez berusaha membantu Jorge Lorenzo dalam perebutan gelar dunia. Tuduhan tersebut memicu perselisihan yang semakin besar setelah keduanya bersenggolan dalam balapan di Sepang.

Marquez terjatuh dan gagal finis. Sementara itu, Rossi mendapat tiga poin penalti akibat insiden tersebut.

Akumulasi poin penalti membuat Rossi harus memulai seri terakhir di Valencia dari posisi paling belakang. Lorenzo kemudian keluar sebagai juara dunia musim itu.

Perselisihan tersebut terus menjadi bahan perdebatan di kalangan penggemar MotoGP selama bertahun-tahun.

Dalam wawancara terbarunya, Marquez tidak menggunakan pengalaman itu untuk menyerang kembali Rossi. Ia lebih menekankan tanggung jawab seorang pembalap ketika memiliki pengaruh besar terhadap perhatian publik.

Persaingan dengan Bezzecchi Tetap Berjalan

Di lintasan, Marquez dan Bezzecchi masih menjadi bagian dari persaingan gelar MotoGP 2026.

Setelah rangkaian GP Australia, Marquez memimpin klasemen dengan keunggulan 10 poin atas Jorge Martin. Bezzecchi berada 50 poin di belakang Marquez ketika musim menyisakan empat putaran.

Kedua pembalap Aprilia itu masih berpeluang memberikan tekanan kepada Marquez dalam balapan tersisa, termasuk GP Malaysia di Sepang.

Baca Juga: Jorge Martin Dipuji Berani Melawan Marquez, tetapi Dinilai Terlalu Memaksa

Persaingan menuju gelar dunia membuat setiap hasil balapan semakin penting. Namun, bagi Marquez, kerasnya persaingan tidak perlu diteruskan menjadi serangan terhadap pribadi pembalap lain melalui media.

Sikap yang ia sampaikan juga sejalan dengan tindakannya ketika meminta pendukung tidak menyalahkan Bezzecchi atas kecelakaan di Mandalika. Keduanya tetap dapat bersaing memperebutkan kemenangan tanpa harus memperbesar permusuhan di luar lintasan.