
Bulatan Sport – Manchester United menghadapi salah satu periode tersulit dalam sejarah modern klub. Kekalahan 0-2 dari Chelsea pada Sabtu (31/10/2026) memperpanjang rentetan tanpa kemenangan Setan Merah menjadi sembilan pertandingan di semua kompetisi, catatan yang terakhir dialami pada 1988.
Masalah Manchester United bukan sekadar jumlah kekalahan. Tim asuhan Michael Carrick berulang kali gagal memanfaatkan peluang, kehilangan kendali pertandingan, dan melakukan kesalahan pertahanan pada momen penting.
Catatan sembilan laga tanpa kemenangan terdiri dari enam kekalahan dan tiga hasil imbang. Berdasarkan data Opta, United terakhir mengalami rentetan sepanjang ini pada 1988. Sementara itu, catatan tanpa kemenangan yang lebih panjang terakhir terjadi pada September 1984, ketika mereka gagal menang dalam sepuluh pertandingan berturut-turut.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan United tidak dapat dijelaskan hanya melalui satu pertandingan atau kesalahan seorang pemain.
Peluang Ada, Gol Tak Kunjung Datang
Salah satu masalah Manchester United adalah kegagalan mengubah kesempatan menyerang menjadi gol.
Saat menghadapi Chelsea, United sebenarnya mampu menciptakan sejumlah peluang pada babak pertama. Bruno Fernandes, Amad Diallo, dan Matheus Cunha beberapa kali mengancam pertahanan tuan rumah.
Cunha bahkan sempat mencetak gol, tetapi VAR menganulirnya karena offside.
Peluang yang terbuang membuat United gagal mendapatkan keuntungan dari periode permainan ketika mereka mampu menekan Chelsea.
Situasi serupa juga terlihat dalam beberapa pertandingan sebelumnya. United kesulitan menghasilkan gol meskipun memiliki pemain dengan kemampuan menyerang seperti Fernandes, Bryan Mbeumo, dan Amad.
Masalah ini membuat pertahanan United menanggung tekanan lebih besar. Ketika peluang gagal menghasilkan gol, satu kesalahan di lini belakang dapat mengubah arah pertandingan.
Performa MU Merosot setelah Babak Pertama
Kekalahan dari Chelsea memperlihatkan perbedaan besar antara performa Manchester United pada babak pertama dan kedua.
United mampu bersaing sebelum turun minum. Namun, setelah Morgan Rogers mencetak gol pada menit ke-50, permainan tim tamu semakin sulit berkembang.
Mengutip data Opta Analyst, Manchester United hanya menghasilkan expected goals (xG) sebesar 0,08 pada babak kedua, sedangkan Chelsea mencapai 2,33.
xG merupakan ukuran statistik untuk memperkirakan kualitas peluang berdasarkan kemungkinan sebuah tembakan menghasilkan gol. Angka yang rendah menunjukkan United hampir tidak menciptakan peluang berkualitas setelah jeda.
Kartu merah Lisandro Martinez pada menit ke-63 memang memperburuk keadaan. Namun, Chelsea sudah lebih dahulu unggul sebelum United kehilangan satu pemain.
Perbedaan performa antarbabak ini menjadi persoalan yang perlu diperbaiki Carrick. United harus mampu mempertahankan kualitas permainan sepanjang pertandingan, bukan hanya pada periode tertentu.
Baca Juga: Chelsea Hajar Manchester United 2-0, Martinez Kartu Merah dan MU Makin Terpuruk
Kesalahan Pertahanan Terus Merugikan Manchester United
Produktivitas serangan bukan satu-satunya persoalan United.
Dalam sembilan pertandingan pertama Liga Inggris 2026/2027, Manchester United sudah kebobolan 15 gol. Catatan tersebut memperlihatkan kesulitan mereka menjaga pertahanan secara konsisten.
Kesalahan individu juga memperbesar masalah. Saat menghadapi Chelsea, Martinez menerima dua kartu kuning dalam waktu berdekatan. Pelanggaran keduanya terhadap Wesley Fofana menghasilkan penalti yang kemudian diselesaikan Cole Palmer.
United harus melanjutkan pertandingan dengan sepuluh pemain ketika sudah tertinggal.
Masalah pertahanan juga terlihat dalam kekalahan 0-3 dari Bournemouth serta kekalahan 1-4 melawan Como di Liga Champions.
Ketiga pertandingan tersebut memiliki jalannya permainan yang berbeda, tetapi menunjukkan persoalan serupa: United tidak mampu menjaga pertahanan cukup baik untuk mempertahankan peluang meraih hasil positif.
Baca Juga: Manchester United Terpuruk, Pertahanan Rapuh dan Serangan Tumpul
Catatan Terburuk sejak 1988, Apa Maknanya?
Rentetan sembilan pertandingan tanpa kemenangan menjadi salah satu catatan paling mengkhawatirkan bagi Manchester United.
Menurut Opta, United belum pernah menjalani sembilan pertandingan berturut-turut tanpa kemenangan sejak 1988. Namun, rentetan tersebut bukan yang terpanjang sepanjang sejarah klub.
Pada September 1984, United pernah menjalani sepuluh pertandingan tanpa kemenangan.
Perbandingan ini menunjukkan betapa jarangnya Manchester United mengalami periode sepanjang sekarang tanpa meraih satu kemenangan pun.
Tekanan semakin besar karena masalah tersebut terjadi di berbagai kompetisi, bukan hanya Liga Inggris.
United telah mengalami kekalahan di liga domestik dan Liga Champions, sehingga kesempatan untuk memulihkan kepercayaan diri melalui kemenangan semakin terbatas.
Michael Carrick Menghadapi Ujian Lebih Besar
Carrick kini menghadapi tekanan untuk menghentikan penurunan performa Manchester United.
Pelatih asal Inggris itu masih mendapatkan kesempatan memimpin tim meskipun United belum menemukan konsistensi. Ia juga menyatakan keyakinannya akan tetap menangani pertandingan berikutnya melawan AS Roma.
Melansir Reuters, Carrick berusaha mengalihkan perhatian dari pembahasan mengenai masa depannya dan memilih fokus mempersiapkan tim menghadapi pertandingan selanjutnya.
Namun, perubahan hasil membutuhkan perbaikan yang lebih luas daripada sekadar mengganti susunan pemain.
United perlu meningkatkan penyelesaian peluang, menjaga organisasi pertahanan, dan mempertahankan keseimbangan permainan ketika menghadapi tekanan lawan.
Tantangan tersebut semakin penting karena Manchester United baru mengumpulkan tujuh poin dari sembilan pertandingan Liga Inggris. Mereka hanya berjarak satu poin dari zona degradasi berdasarkan klasemen setelah kekalahan dari Chelsea.
Pertandingan melawan Roma menjadi kesempatan berikutnya bagi United untuk mengakhiri rentetan tanpa kemenangan. Hasilnya juga akan menjadi ukuran perkembangan tim setelah mengalami salah satu periode terburuk dalam beberapa dekade.





